Daftar isi
Lombok mungkin dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, tapi jejak Hindu di pulau ini sama tuanya dan sama indahnya. Sejak abad ke-16 sampai masa Kerajaan Karangasem, pura-pura dibangun di tepi laut, di kaki bukit, dan di sekitar mata air. Banyak di antaranya masih aktif sampai hari ini, berdampingan dengan masjid dan kampung Sasak, dan sebagian bahkan dipakai bersama oleh dua agama.
Sebagian besar pura ini ada di Lombok Barat dan Mataram. Spot lain di wilayah yang sama kami bahas di wisata Lombok Barat, dan gambaran besar pulau ada di panduan wisata Lombok.
Status terkini: Harga dan jam buka di artikel ini dicatat tim saat kunjungan dan bisa berubah. Kami cek ulang sebelum setiap trip, jadi tanyakan versi terbaru saat konsultasi.
Pura Batu Bolong, Senggigi
Tidak perlu ke Bali untuk melihat matahari terbenam dari celah sebuah pura. Di Senggigi, Pura Batu Bolong berdiri di atas batu karang hitam yang berlubang di tengahnya, menjorok ke laut. Saat sore, warna keemasan langit seolah menyatu dengan batu pura yang pekat.

Pura ini dibangun tahun 1533 oleh Dang Hyang Dwijendra, penyebar agama Hindu dari Jawa Timur. Saat air laut surut, kamu bisa melewati lubang batu sepanjang sekitar 5 meter yang menyerupai gua dan tiba di pantai kecil di baliknya, Pantai Duduk. Datanglah sore, saat matahari mulai turun, dan bersiaplah bersabar karena ini salah satu spot favorit fotografer dan penikmat senja di Lombok.

Lokasi: Desa Batulayar, Kec. Batulayar, Senggigi, Lombok Barat.
Taman Narmada, replika Rinjani

Taman Narmada adalah saksi masa ketika Hindu menjadi agama mayoritas di Lombok. Dibangun tahun 1727 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem, taman seluas hampir 3 hektar ini dirancang sebagai tempat pemujaan saat sang raja tidak lagi mampu mendaki Rinjani. Telaganya yang luas dan pura berundak di sisi timur Telaga Ageng adalah gambaran mini Segara Anak dan puncak Rinjani. Pura Narmada termasuk salah satu dari delapan pura tertua di Lombok.

Di dalam kompleks ada mata air pertemuan Narmada, Lingsar, dan Suranadi yang dinginnya seperti es. Konon, airnya membuat awet muda. Ada juga dua kolam renang berair dingin, jadi bawa baju ganti. Warung-warung di area taman menjual sate bulayak yang bisa kamu nikmati di bawah pohon. Meski berada di kompleks Hindu, makanannya halal.
Pura Lingsar, harmoni dua agama
Inilah pura paling istimewa di Lombok. Pura Lingsar adalah tempat suci bagi dua keyakinan sekaligus: umat Hindu dan penganut Islam Wetu Telu, yang beribadah di lokasi yang sama. Dibangun oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem pada 1759 untuk menyatukan batin masyarakat Sasak dan Bali. Nama Lingsar berarti air yang mengalir, merujuk pada mata air di kawasan ini.

Kompleksnya sekitar 26 hektar, lebih besar dari Taman Narmada, dengan tiga area utama: Pura Gaduh untuk umat Hindu, Kemaliq untuk penganut Wetu Telu, dan Pesiraman sebagai tempat pemandian. Ada juga kolam besar seluas lebih dari 6.000 m² untuk menghormati Dewa Wisnu. Kalau datang di waktu yang tepat, kamu bisa menyaksikan Perang Topat, tradisi saling lempar ketupat sebagai wujud syukur yang melibatkan kedua umat.


Lokasi: Jl. Raya Batu Kumbung, Kec. Lingsar, Lombok Barat.
Pura Suranadi, surga mata air
Kawasan Lingsar dan Suranadi terkenal sejuk karena dikelilingi mata air dan pepohonan rindang. Suranadi sendiri bermakna hidup yang baru. Menurut cerita, mata airnya tercipta dari tongkat kayu yang ditancapkan Dang Hyang Nirartha, tokoh penyebar Hindu. Ada lima pancuran suci dengan fungsi berbeda: pembersih, pengentas, pelukatan, dan petirta. Upacara tahunan Sasih Kapat biasanya digelar sekitar Oktober sampai November.

Area pura terbagi tiga: Utama Mandala sebagai pusat ibadah, serta Madya Mandala dan Nista Mandala di kiri kanan jalan utama menuju pemandian. Kamu boleh berendam di kolam pemandian utama, lalu lanjut bermain di pancuran yang airnya datang langsung dari sungai. Setelahnya, sate bulayak di warung terdekat adalah penutup yang sempurna.
Pura Meru, Cakranegara
Pura terbesar di Lombok ini dibangun oleh Anak Agung Made Karangasem dengan bantuan 33 desa, dan lokasinya paling strategis, di tengah Cakranegara. Bata oranye berpadu batu hitam mengelilingi kompleks, dan di dalamnya berdiri 33 sanggah putih sebagai simbol kerja sama ke-33 desa tersebut.

Ciri paling kentara adalah atap meru bertingkat 11 yang meruncing ke langit, diapit dua meru lain bertingkat 9 dengan arsitektur serupa. Kompleksnya terbagi tiga: Utama Mandala sebagai ruang ibadah, Madya Mandala dengan gazebo dua tingkat, dan Nista Mandala, tanah lapang untuk upacara tertentu.
Lokasi: Jl. Selaparang, Cakranegara Timur, Kec. Cakranegara, Kota Mataram.
Taman Mayura, Cakranegara
Hanya beberapa menit dari Pura Meru. Dulu namanya Klepug, yang berarti suara gemericik air. Karena kawasan ini banyak ular, Anak Agung Ngurah Karangasem mendatangkan burung merak untuk menghalaunya, dan namanya pun berganti jadi Mayura. Relief merak bisa kamu temukan di banyak sudut.

Kolamnya luas dan asri, dengan Bale Kambang di tengahnya. Di sini terlihat jelas harmoni budaya Lombok: patung bercirikan Muslim, Jawa, dan Tionghoa berdiri dalam satu kompleks. Ada empat pura: Pura Gunung Rinjani, Ngelurah, Padmasana, dan Pura Gedong. Area pura utama tidak selalu terbuka untuk umum, tapi tamannya nyaman untuk berjalan santai dan berfoto.

Pengunjung diminta mengenakan selendang merah. Konon, cara mengikatnya punya arti: ke kiri untuk yang sudah menikah, ke kanan untuk yang sudah punya tambatan hati, dan di tengah untuk yang masih sendiri.
Pura Gunung Pengsong, Labuapi
Bagi umat Hindu, ketinggian adalah wujud penghormatan pada Sang Hyang Widhi. Pura di puncak Gunung Pengsong, sekitar 200 mdpl, adalah contohnya. Nama puranya diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti tempat memohon berkat. Sementara nama gunungnya, menurut cerita warga, berasal dari harta karun berupa uang kepeng dan uang berlubang (song) dari masa lampau.
Siapkan stamina untuk menaiki sekitar 275 anak tangga. Di puncak, pemandangannya lepas ke Gunung Rinjani, Pantai Kuranji, sampai Gunung Agung di Bali saat cuaca cerah. Ratusan monyet hidup di kawasan ini, jadi simpan baik-baik barang bawaanmu.
Adab berkunjung ke pura
- Kenakan pakaian sopan. Beberapa pura mewajibkan kain atau selendang, biasanya disediakan di pintu masuk.
- Perempuan yang sedang haid diminta tidak memasuki area utama pura.
- Jaga suara dan jangan melintas di depan orang yang sedang bersembahyang.
- Jangan memanjat atau duduk di bangunan suci demi foto.
Lanjut merancang
- Perang Topat Lingsar: tradisi tahunan di Pura Lingsar
- 7 masjid terbesar di Lombok: untuk sisi Islam pulau ini
- sate khas Lombok: termasuk sate bulayak khas Suranadi
Mau pura-pura ini masuk rute yang pas dengan ritmemu? Ceritakan rencanamu, tim lokal kami susun draft itinerary-nya.