Lombok

7 Pura Bersejarah di Lombok, Pulau Seribu Masjid

Batu Bolong di tepi laut, Narmada yg meniru Segara Anak, Lingsar milik dua agama, sampai Pura Meru terbesar di Lombok.

7 Pura Bersejarah di Lombok, Pulau Seribu Masjid
Daftar isi

Lombok mungkin dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, tapi jejak Hindu di pulau ini sama tuanya dan sama indahnya. Sejak abad ke-16 sampai masa Kerajaan Karangasem, pura-pura dibangun di tepi laut, di kaki bukit, dan di sekitar mata air. Banyak di antaranya masih aktif sampai hari ini, berdampingan dengan masjid dan kampung Sasak, dan sebagian bahkan dipakai bersama oleh dua agama.

Sebagian besar pura ini ada di Lombok Barat dan Mataram. Spot lain di wilayah yang sama kami bahas di wisata Lombok Barat, dan gambaran besar pulau ada di panduan wisata Lombok.

Status terkini: Harga dan jam buka di artikel ini dicatat tim saat kunjungan dan bisa berubah. Kami cek ulang sebelum setiap trip, jadi tanyakan versi terbaru saat konsultasi.

Pura Batu Bolong, Senggigi

Tidak perlu ke Bali untuk melihat matahari terbenam dari celah sebuah pura. Di Senggigi, Pura Batu Bolong berdiri di atas batu karang hitam yang berlubang di tengahnya, menjorok ke laut. Saat sore, warna keemasan langit seolah menyatu dengan batu pura yang pekat.

Pura Batu Bolong Senggigi Lombok
Wisatawan domestik menjelajahi Pura Batu Bolong

Pura ini dibangun tahun 1533 oleh Dang Hyang Dwijendra, penyebar agama Hindu dari Jawa Timur. Saat air laut surut, kamu bisa melewati lubang batu sepanjang sekitar 5 meter yang menyerupai gua dan tiba di pantai kecil di baliknya, Pantai Duduk. Datanglah sore, saat matahari mulai turun, dan bersiaplah bersabar karena ini salah satu spot favorit fotografer dan penikmat senja di Lombok.

Wisatawan mancanegara di Pura Batu Bolong Senggigi
Pasangan honeymoon menikmati sunset di Pura Batu Bolong

Lokasi: Desa Batulayar, Kec. Batulayar, Senggigi, Lombok Barat.

Taman Narmada, replika Rinjani

Taman Narmada, taman air awet muda

Taman Narmada adalah saksi masa ketika Hindu menjadi agama mayoritas di Lombok. Dibangun tahun 1727 oleh Anak Agung Ngurah Karangasem, taman seluas hampir 3 hektar ini dirancang sebagai tempat pemujaan saat sang raja tidak lagi mampu mendaki Rinjani. Telaganya yang luas dan pura berundak di sisi timur Telaga Ageng adalah gambaran mini Segara Anak dan puncak Rinjani. Pura Narmada termasuk salah satu dari delapan pura tertua di Lombok.

Taman Narmada dari udara
Taman Narmada dari udara. Foto Klook

Di dalam kompleks ada mata air pertemuan Narmada, Lingsar, dan Suranadi yang dinginnya seperti es. Konon, airnya membuat awet muda. Ada juga dua kolam renang berair dingin, jadi bawa baju ganti. Warung-warung di area taman menjual sate bulayak yang bisa kamu nikmati di bawah pohon. Meski berada di kompleks Hindu, makanannya halal.

Pura Lingsar, harmoni dua agama

Inilah pura paling istimewa di Lombok. Pura Lingsar adalah tempat suci bagi dua keyakinan sekaligus: umat Hindu dan penganut Islam Wetu Telu, yang beribadah di lokasi yang sama. Dibangun oleh Raja Anak Agung Ketut Karangasem pada 1759 untuk menyatukan batin masyarakat Sasak dan Bali. Nama Lingsar berarti air yang mengalir, merujuk pada mata air di kawasan ini.

Gerbang utama Pura Gaduh Lingsar
Gerbang utama Pura Gaduh Lingsar

Kompleksnya sekitar 26 hektar, lebih besar dari Taman Narmada, dengan tiga area utama: Pura Gaduh untuk umat Hindu, Kemaliq untuk penganut Wetu Telu, dan Pesiraman sebagai tempat pemandian. Ada juga kolam besar seluas lebih dari 6.000 m² untuk menghormati Dewa Wisnu. Kalau datang di waktu yang tepat, kamu bisa menyaksikan Perang Topat, tradisi saling lempar ketupat sebagai wujud syukur yang melibatkan kedua umat.

Ritual melempar koin ke kolam di Pura Lingsar
Ritual melempar koin ke kolam. (Dok: Lombok Persada)
Umat Hindu bersembahyang di Kemaliq Lingsar
Umat Hindu bersembahyang di Kemaliq

Lokasi: Jl. Raya Batu Kumbung, Kec. Lingsar, Lombok Barat.

Pura Suranadi, surga mata air

Kawasan Lingsar dan Suranadi terkenal sejuk karena dikelilingi mata air dan pepohonan rindang. Suranadi sendiri bermakna hidup yang baru. Menurut cerita, mata airnya tercipta dari tongkat kayu yang ditancapkan Dang Hyang Nirartha, tokoh penyebar Hindu. Ada lima pancuran suci dengan fungsi berbeda: pembersih, pengentas, pelukatan, dan petirta. Upacara tahunan Sasih Kapat biasanya digelar sekitar Oktober sampai November.

Pura Suranadi

Area pura terbagi tiga: Utama Mandala sebagai pusat ibadah, serta Madya Mandala dan Nista Mandala di kiri kanan jalan utama menuju pemandian. Kamu boleh berendam di kolam pemandian utama, lalu lanjut bermain di pancuran yang airnya datang langsung dari sungai. Setelahnya, sate bulayak di warung terdekat adalah penutup yang sempurna.

Pura Meru, Cakranegara

Pura terbesar di Lombok ini dibangun oleh Anak Agung Made Karangasem dengan bantuan 33 desa, dan lokasinya paling strategis, di tengah Cakranegara. Bata oranye berpadu batu hitam mengelilingi kompleks, dan di dalamnya berdiri 33 sanggah putih sebagai simbol kerja sama ke-33 desa tersebut.

Pura Meru Lombok

Ciri paling kentara adalah atap meru bertingkat 11 yang meruncing ke langit, diapit dua meru lain bertingkat 9 dengan arsitektur serupa. Kompleksnya terbagi tiga: Utama Mandala sebagai ruang ibadah, Madya Mandala dengan gazebo dua tingkat, dan Nista Mandala, tanah lapang untuk upacara tertentu.

Lokasi: Jl. Selaparang, Cakranegara Timur, Kec. Cakranegara, Kota Mataram.

Taman Mayura, Cakranegara

Hanya beberapa menit dari Pura Meru. Dulu namanya Klepug, yang berarti suara gemericik air. Karena kawasan ini banyak ular, Anak Agung Ngurah Karangasem mendatangkan burung merak untuk menghalaunya, dan namanya pun berganti jadi Mayura. Relief merak bisa kamu temukan di banyak sudut.

Taman Mayura

Kolamnya luas dan asri, dengan Bale Kambang di tengahnya. Di sini terlihat jelas harmoni budaya Lombok: patung bercirikan Muslim, Jawa, dan Tionghoa berdiri dalam satu kompleks. Ada empat pura: Pura Gunung Rinjani, Ngelurah, Padmasana, dan Pura Gedong. Area pura utama tidak selalu terbuka untuk umum, tapi tamannya nyaman untuk berjalan santai dan berfoto.

Pura Taman Mayura

Pengunjung diminta mengenakan selendang merah. Konon, cara mengikatnya punya arti: ke kiri untuk yang sudah menikah, ke kanan untuk yang sudah punya tambatan hati, dan di tengah untuk yang masih sendiri.

Pura Gunung Pengsong, Labuapi

Bagi umat Hindu, ketinggian adalah wujud penghormatan pada Sang Hyang Widhi. Pura di puncak Gunung Pengsong, sekitar 200 mdpl, adalah contohnya. Nama puranya diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti tempat memohon berkat. Sementara nama gunungnya, menurut cerita warga, berasal dari harta karun berupa uang kepeng dan uang berlubang (song) dari masa lampau.

Siapkan stamina untuk menaiki sekitar 275 anak tangga. Di puncak, pemandangannya lepas ke Gunung Rinjani, Pantai Kuranji, sampai Gunung Agung di Bali saat cuaca cerah. Ratusan monyet hidup di kawasan ini, jadi simpan baik-baik barang bawaanmu.

Adab berkunjung ke pura

  • Kenakan pakaian sopan. Beberapa pura mewajibkan kain atau selendang, biasanya disediakan di pintu masuk.
  • Perempuan yang sedang haid diminta tidak memasuki area utama pura.
  • Jaga suara dan jangan melintas di depan orang yang sedang bersembahyang.
  • Jangan memanjat atau duduk di bangunan suci demi foto.

Lanjut merancang

Mau pura-pura ini masuk rute yang pas dengan ritmemu? Ceritakan rencanamu, tim lokal kami susun draft itinerary-nya.

Ditulis oleh Tim Lokal Timur Adventour Indonesia

Guide dan perencana perjalanan yg tinggal dan bekerja di Indonesia Timur. Setiap rute di panduan ini sudah kami jalani sendiri.

Lanjutkan merencanakan Lombok

Baca panduan lengkap Lombok

Mau rute Lombok yg disusun utk kamu?

Ceritakan tanggal, jumlah orang, dan gaya perjalananmu. Draft itinerary gratis.

Rancang Trip Lombok
Chat WhatsApp